Beranda » Restu Astika, Jagoan Pembuat Aplikasi

Restu Astika, Jagoan Pembuat Aplikasi

koding

Kecil-kecil cabe rawit pantas ditujukan kepada I Putu Agus Restu Astika (18), siswa SMAN 2 Negara, Bali, yang jago membuat aplikasi. Ia memenangi dua lomba ”coding” di China dan Jepang.

Kecil-kecil cabe rawit pantas ditujukan kepada I Putu Agus Restu Astika (18), siswa SMAN 2 Negara, Bali, yang jago membuat aplikasi. Ia memenangi dua lomba coding di China dan Jepang. Restu mencapai prestasi itu lewat belajar coding secara otodidak sambil bersekolah dan bertani bersama ayahnya.

Dua prestasi Putu Agus Restu, biasa dipanggil Restu, juara pertama di Top Coder Expert Steam Competition Internasional 2019 di Guangzhou, China. Awal Juli 2023, ia meraih medali emas pada Japan Design Invention Expo 2023 di Tokyo, Jepang.

Pada lomba tahun 2019, Restu yang saat itu masih sekolah di SMPN 9 Denpasar membuat Sitangan, aplikasi untuk mengedukasi petani agar bertani secara ramah lingkungan seperti ayahnya. Tujuan edukasi misalnya mengajak petani meninggalkan pupuk kimia yang selama mereka lakukan lalu menggantinya dengan pupuk organik yang menyehatkan bumi. Ketika ke Jepang, ia membawa aplikasi HP Monitor yang menjadi stetoskop digital yang memudahkan pemeriksaan denyut nadi dan memperlihatkan hasilnya dengan cepat dan akurat.

Dana pribadi

Meski mewakili bangsa dan negara, keberangkatannya ke luar negeri lebih mengandalkan biaya pribadi. Saat ikut lomba ke China, beruntung ia mendapat bantuan dana dari Pemerintah Kota Denpasar sebesar Rp 12 juta untuk membiayai keberangkatan Restu dan seorang guru. Namun, orangtua Restu harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 8 juta untuk membayar hotel, transportasi, dan biaya makan.

Awal Juli lalu, demi bisa mempresentasikan karyanya ke Jepang, orangtua Restu yang petani buah harus membiayai keberangkatan anaknya. ”Awalnya pakai biaya sendiri sekitar Rp 17-an juta, tetapi sekolah akan mengusahakan mengganti uang tiket Rp 9,2 juta,” ujar Restu, Sabtu (29/7/2023), lewat sambungan telepon dari Jembrana, Bali.

Prototipe aplikasi Si Tangan ciptaan I Putu Agus Restu Astika Putra (18), siswa kelas XII SMA Negeri 2 Negara, Jembrana, Bali, yang meraih medai emas pada Japan Design Invention Expo 2023. Alat itu merupakan aplikasi untuk mengedukasi petani agar melakukan pola pertanian ramah lingkungan.
ARSIP : PRIBADIPrototipe aplikasi Si Tangan ciptaan I Putu Agus Restu Astika Putra (18), siswa kelas XII SMA Negeri 2 Negara, Jembrana, Bali, yang meraih medai emas pada Japan Design Invention Expo 2023. Alat itu merupakan aplikasi untuk mengedukasi petani agar melakukan pola pertanian ramah lingkungan.

Ia pergi sendirian dengan bekal uang Rp 8 juta untuk hidup selama ia ikut JDIE 2023. ”Setiap hari saya pindah dari hotel kapsul satu ke yang lain untuk menghemat uang,” tutur Restu. Tak hanya itu, ia juga harus mencari saluran internet (Wi-Fi) secara gratis dan cermat membeli makanan serta memilih alat transportasi selama di sana.

Sementara, dari dua kompetisi tingkat internasional yang ia ikuti, para juara tak mendapat hadiah uang. ”Namun, saya sudah mematenkan aplikasi yang saya buat untuk menjaga pihak lain melakukan klaim aplikasi saya,” kata anak pertama dari tiga bersaudara pasangan I Wayan Samping Budi Astika dan Ida Ayu Sriyuni Mariatni itu.

Prototipe aplikasi HP Monitor ciptaan I Putu Agus Restu Astika Putra (18), siswa kelas XII SMA Negeri 2 Negara, Jembrana, Bali, yang menang di Top Coder Expert Steam Competition Internasional 2019 di Guangzhou, China. Alat itu merupakan stetoskop digital.
ARSIP : PRIBADIPrototipe aplikasi HP Monitor ciptaan I Putu Agus Restu Astika Putra (18), siswa kelas XII SMA Negeri 2 Negara, Jembrana, Bali, yang menang di Top Coder Expert Steam Competition Internasional 2019 di Guangzhou, China. Alat itu merupakan stetoskop digital.

Otodidak

Restu belum lama mengenal komputer. Ketika bersekolah di SMPN 9 Denpasar, ia baru mengenalnya setelah ayahnya membelikannya laptop untuk mengerjakan tugas dari guru.

”Ayah membelikan laptop buat saya karena tak mau saya ketinggalan pelajaran,” kata Restu. Pengenalan komputer awalnya ia dapat dari guru IPS di SMP Negeri 9 Denpasar, I Ketut Nugraha Swadharma. Ketut-lah yang jadi guru pembimbing Ekstrakurikuler Spensya IT Community yang Restu ikuti.

Ia dan kawan-kawannya mendapat info mengenai kompetisi coding dan lainnya juga dari Ketut. Sebenarnya Restu kesulitan saat diminta ikut lomba coding sebab ia belum menguasai ilmu itu. Ia lantas belajar sendiri secara otodidak dari membaca artikel di internet. Ketika ada lomba coding di Jakarta, gurunya meminta ia dan kawan-kawannya ikut. ”Sejak itu saya setiap hari belajar coding dari Youtube dan lainnya. Susah sekali tetapi saya tak mau menyerah,” tuturnya. Rasa terima kasih kepada ayahnya dan beban mewakili bangsa dan negara Indonesia di kompetisi selalu memicu semangat untuk bekerja keras menyelesaikan aplikasinya.

Demi menguasai tahap pertahap membuat fungsi pemrograman untuk mengelola aplikasi, Restu rela begadang. Tepat enam bulan kemudian ia bisa membuat aplikasi Sitangan. Karya itulah yang pertama kali membuatnya ikut Lomba Software Developer WeCode Indonesia di Jakarta tahun 2019. Kemenangannya di ajang kompetisi nasional tersebut membuat Restu diundang ke China.

Setelah lulus SMP, keluarga Restu pindah ke Jembrana karena ayahnya memutuskan menjadi petani. Maka, di sela-sela bersekolah, belajar coding, membuat aplikasi, Restu juga mencangkul membantu ayahnya mengelola ladang milik keluarga. Tak hanya bertani, Restu bersama ayahnya juga harus membawa hasil panen pisang dan pepaya ke Denpasar untuk dijual.

Namun, kesukaannya belajar coding tak berhenti. Demi makin menguasai coding, Restu rata-rata hanya tidur 3-4 jam per hari. Usahanya memberi hasil cemerlang. Ketika I Dewa Ayu Kade Putri Apriani, guru biologi di SMA-nya, menyarankan ia ikut lomba aplikasi lagi, Restu membuat HP Monitor hanya dalam waktu satu bulan.

Ia ingin segera menyelesaikan lalu menyebarkan aplikasi buatannya agar bermanfaat bagi masyarakat, tetapi ia tak punya biaya. ”Masih butuh banyak biaya sebab aplikasinya baru berbentuk prototipe. Belum tahu perlu biaya berapa untuk menyelesaikannya,” ujar Restu yang ingin menjadi dokter.

Semoga ada tangan orang baik yang membantu mewujudkan niat Restu.

I Putu Agus Restu Astika Putra (18), siswa kelas XII SMA Negeri 2 Negara, Jembrana, Bali, dengan medali emas dan plakat yang ia raih di Japan Design Invention Expo 2023.
ARSIP : PRIBADII Putu Agus Restu Astika Putra (18), siswa kelas XII SMA Negeri 2 Negara, Jembrana, Bali, dengan medali emas dan plakat yang ia raih di Japan Design Invention Expo 2023.

I Putu Agus Restu Astika Putra

Lahir: Denpasar, Maret 2005

Pendidikan : Kelas XII SMA Negeri 2 Negara, Kabupaten Jembrana, Bali

Prestasi (antara lain)

– Juara 1 Lomba Software Developer WeCode Indonesia di Jakarta

– Juara pertama Top Coder Expert Steam Competition Internasional 2019 di Guangzhou China

– Meraih medali Emas pada Japan Design Invention Expo (JDIE) 2023 di Tokyo, Jepang

Tinggalkan Balasan