Beranda » PROF. DR. RER.NAT EVVY KARTINI MENGISI ACARA TRAINING OF TRAINERS (TOT) ASOSIASI PENAMBANG NIKEL INDONESIA (APNI) KE-5 DI HOTEL GRAND SAHID

PROF. DR. RER.NAT EVVY KARTINI MENGISI ACARA TRAINING OF TRAINERS (TOT) ASOSIASI PENAMBANG NIKEL INDONESIA (APNI) KE-5 DI HOTEL GRAND SAHID

Screenshot_20240520-094618

  


Jakarta, – Prof. Dr. rer.nat Evvy Kartini, fisikawati dan peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengisi acara Training of Trainers (TOT) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) yang ke-5 di Hotel Grand Sahid. Acara yang berlangsung pada Rabu, 15 Mei 2024 ini dihadiri oleh para pelaku industri nikel dari seluruh Indonesia.
Prof. Dr. Evvy Kartini, yang merupakan lulusan SMA Al Azhar, melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Fisika ITB. Setelah itu, beliau melanjutkan program Ph.D di Technische Universitat Berlin, Jerman. Dengan prestasi yang gemilang, beliau berhasil menjadi profesor di usia 45 tahun. “Saya SMA di Al Azhar, lalu lanjut ke Jurusan Fisika ITB. Setelah itu, lanjut program Ph.D ke Jerman di Technische Universitat Berlin,” ujar ibu dua anak ini.
Prof. Dr. Evvy memulai kariernya sebagai peneliti di Batan pada tahun 1988 sebelum bergabung dengan BRIN. Dalam acara TOT APNI ini, beliau memaparkan materi dengan tema “Levelling up Nickel from Upstream to Downstream”. Salah satu poin penting yang disampaikannya adalah pentingnya belajar dari negara lain yang sudah lebih maju dalam teknologi baterai dan kendaraan listrik. “Vietnam tidak punya nikel, tapi mereka punya pabrik baterai dan pabrik EV. Kita harus belajar dari Vietnam,” katanya.
Beliau juga menekankan bahwa Indonesia sedang dijajah secara ekonomi, dan satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari penjajahan ini adalah dengan menguasai teknologi. “Cara agar kita tidak dijajah adalah dengan menguasai teknologi agar kita tidak bergantung pada pihak luar. Karena itu, saya mendorong diri saya untuk berbuat banyak, salah satunya dengan mendirikan pusat riset baterai National Research Battery Institute (NBRI) bersama co-founder saya, Prof. Alan J. Drew,” tegasnya.
Menurut Prof. Dr. Evvy, Indonesia belum memiliki laboratorium uji baterai yang memadai, sehingga NBRI didirikan pada 7 Desember 2020 untuk menjawab tantangan tersebut. Sejak didirikan, NBRI telah bekerja sama dengan berbagai pemangku kebijakan dan praktisi di lintas sektor. Kerja sama dengan Thermofisher, yang ditandai dengan penandatanganan MOU pada 24 April 2024, serta kerja sama dengan Carsurin, menunjukkan komitmen NBRI dalam pengembangan teknologi baterai di Indonesia.
Prof. Dr. Evvy juga mengungkapkan bahwa emisi kendaraan menyumbang 16 persen polusi udara di Indonesia. Untuk itu, produksi kendaraan listrik (electric vehicle atau EV) adalah salah satu cara mewujudkan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GHG). “Targetnya pada tahun 2030, motor listrik diproduksi 13 juta unit, sekarang diproduksi 75.000 unit, mobil listrik diproduksi 4 juta unit, sekarang diproduksi 20.000 unit, dan charging infrastructure targetnya 67.000 unit, sekarang tersedia 578 unit dan 1700 swapping stations,” papar Prof. Dr. Evvy.
Beliau juga menambahkan bahwa baterai adalah teknologi inti dan ujung dari hilirisasi itu adalah daur ulang. Oleh sebab itu, NBRI mengadakan pelatihan “Battery School: Advanced Material Processing in Battery Technology” yang akan diadakan pada 21–22 Mei 2024 di Indonesian Life Science Center, Puspiptek, Serpong dengan biaya investasi sebesar Rp6.000.000/orang. Untuk peserta TOT APNI Seri V, diberikan harga spesial sebesar Rp5.000.000/orang. Pendaftaran dapat dilakukan melalui dokumen yang tersedia atau menghubungi nomor 0811-8125-1717.
Dengan adanya acara TOT APNI ini, diharapkan para pelaku industri nikel di Indonesia dapat lebih memahami pentingnya penguasaan teknologi baterai dan kendaraan listrik untuk masa depan yang lebih bersih dan mandiri. Prof. Dr. Evvy Kartini berharap bahwa kontribusinya dalam acara ini dapat memberikan inspirasi dan dorongan bagi para peserta untuk terus berinovasi dan mengembangkan teknologi di Indonesia.

Tinggalkan Balasan